DISAMPING KANAN INI.............
PLEASE USE ........ "TRANSLATE MACHINE" .. GOOGLE TRANSLATE BESIDE RIGHT THIS
........................
Tidak Semua Salah Orangtua
Oleh lilme |
Mommies Daily – Jum, 21 Feb 2014 10:51 WIB
Sebuah pesan masuk ke inbox saya beberapa hari yang
lalu. Sebagian isinya adalah:
Sebagian PERILAKU NEGATIF ANAK: tidak mandiri,
tidak patuh, membangkang, malas belajar, mudah rewel, konsumtif, hingga rendah
diri, sesungguhnya ORANGTUA sendiri yang jadi PENYEBABNYA.
Dan beberapa kalimat lain dengan isi senada..
perilaku negatif orangtua lah yang merupakan penyebab dari keburukan anak.
Persepsi ini mulai berkembang di dalam kehidupan
sosial kita. Berapa banyak orangtua yang dicibir, saat anaknya melakukan
kesalahan? Pasti banyak sekali. Kita pasti sering mendengar kalimat seperti,
“Ortunya gitu sih.. makanya anaknya juga”, atau “Ortunya kurang perhatian sih,
jadi anaknya kelakuannya begitu..” dan lain-lain. Rasanya komentar-komentar
tersebut sudah sangat akrab di telinga kita, sehingga kita terbiasa dan
menganggapnya sebagai suatu kebenaran mutlak.
Di sisi lain, seorang teman dengan anak
spesialnya pernah curhat, “Gue ga tau musti ngapain lagi, gue udah berusaha
sekuat tenaga, dengan tenaga, materi, air mata hingga berdarah-darah rasanya..
tapi anak gue emang berbeda dari anak lain.. “ keluhnya, saat perilaku anaknya
yang berbeda mendapat komplain dari banyak orang. Ah, padahal saya tahu
perjuangan ibu hebat itu. Dia diamanahi seseorang yang istimewa dengan struktur
otak dan cara pikir yang berbeda dengan anak lainnya. Kesalahan diakah jika
anaknya berperilaku dengan cara yang ‘aneh’ buat dunia ‘normal’ kita?
Ya, saya setuju, bahwa orangtua memegang peranan
yang sangat penting dalam pendidikan anaknya. Saya sangat setuju bahwa pola
asuh dan pendidikan dalam keluarga yang akan sangat mewarnai karakter seorang
anak. Tapi saya juga sangat setuju dengan Hillary Clinton, “It takes a village
to raise a child”.
Apa yang kita khawatirkan saat kita lepas
anak-anak ke dunia luar? Kita berharap agar anak kita mendapat teman yang
membawa pengaruh baik, bebas bullying, jauh rokok dan narkoba, selamat
dari kejahatan via internet, terjaga dari seks bebas. Dan semuanya itu ada di
luar rumah. See, it takes a village to raise a child..
Kembali ke penyebab keburukan anak. Saya heran, mengapa motivasi
untuk mendidik anak-anak dengan cara yang lebih baik justru ditegaskan dengan
kalimat negatif yang menggerus kepercayaan diri orangtua?
Saya lebih setuju dengan kalimat sesudahnya:
Tahukah Anda:
Sebagian orang dewasa siap untuk menikah, tapi
BELUM TENTU SIAP MENJADI ORANGTUA
Benar sekali. Banyak sekali orang dewasa yang belum
siap menjadi orangtua. Kehidupan yang kompetitif dan motivasi untuk meraih
kehidupan yang lebih baik telah membuat banyak orangtua kita lupa mengingatkan,
bahwa kelak kita akan menjadi orangtua. Sedari kecil kita selalu dimotivasi
untuk berprestasi, makin berprestasi, lulus sekolah dengan nilai baik dan
bekerja dengan penghasilan memadai. Yang terjadi setelah menikah, bisa jadi
ketidaksiapan menjadi orangtua. Sayang sekali, bahwa untuk menjadi orangtua,
tidak ada syarat apapun yang harus dipenuhi selain surat nikah. Padahal untuk
mendapatkan SIM saja orang harus melalui berbagai tes.
Sebenarnya banyak, kok, orangtua yang menyadari
ketiadaan bekalnya. Tapi mereka belajar. Saat ini beribu buku, artikel dan
situs tentang pengasuhan anak dengan mudah didapat. Ilmu itu mungkin berguna
dan dapat diaplikasikan, walaupun kadang kurang percaya diri. Padahal kepercayaan
diri adalah hal yang sangat penting untuk menjadi orang tua.
Buat saya, dua hal yang terpenting (dan masih
selalu saya pelajari) dalam karir saya sebagai seorang ibu adalah kepercayaan
diri, dan kesabaran.
Orangtua yang percaya diri akan lebih nyaman
menghadapi anak-anaknya. Orangtua yang sabar bisa lebih santai menolerir
kesalahan-kesalahan kecil. Orangtua yang percaya diri dan sabar akan bisa lebih
efektif dalam mendidik anak-anaknya, bisa berkomunikasi dengan baik, memiliki
rasa humor yang sehat, dan lebih bahagia.
Sayangnya kebanyakan artikel dan tulisan
(termasuk pelatihan, mungkin) dan masukan psikolog tentang mendidik anak lebih
banyak yang berkonsentrasi pada KESALAHAN orangtua, dan bukan
meningkatkan kepercayaan diri orangtua.
Beberapa sahabat, ibu-ibu muda dengan anak balita
pernah curhat, “Rasanya saya belum maksimal mendidik anak saya”. Ada lagi yang
bilang, “Saya malu sekali saat anak saya berlaku buruk di tempat umum dan semua
orang memandang saya, menyalahkan saya atas keburukan perilaku anak saya”. Yang
paling parah adalah saat seorang sahabat bercerita, “Saya pernah hampir
mengiris tangan saya dengan silet!” dalam keadaan frustrasi berat saat hamil
dengan dua balita yang sedang lincah-lincahnya, tanpa asisten.
Anda pasti pernah mendengar cerita seorang ibu
yang sarjana dari universitas terkemuka yang membunuh 3 orang anaknya? Menurut
berita di koran, sang ibu melakukannya karena khawatir anak-anak balitanya
tidak menjadi anak yang saleh. Astagfirullah. Sebegitu frustrasinya kah ibu
itu, sehingga tega menghilangkan nyawa buah hatinya?
Sebegitu beratnya penilaian lingkungan atas
‘prestasi’ sebagai orangtua? Ah, padahal prestasi anak bukanlah murni prestasi
orangtuanya.. Kesuksesan orangtua seharusnya tidak hanya diukur dari
kesuksesan-kesuksesan anaknya..
Mudah-mudahan kalimat di atas tadi itu hanyalah gimmick
marketing, dan pelatihan tersebut tidak benar-benar menyalahkan orangtua
atas semua kesalahan anaknya. Pasti ada cara lain, dengan energi yang lebih
positif yang dapat menanamkan kepercayaan diri orangtua, bahwa mereka lah,
dengan rasa cinta yang paling besar, yang paling bisa mendidik anak-anak mereka
dengan segala kelebihan dan kekurangan sebagai manusia.
Saya setuju, bahwa perlu ilmu dan belajar tanpa
henti untuk menjadi orangtua yang lebih baik. Dan mendidik anak seharusnya
adalah suatu petualangan yang menantang, sekaligus menyenangkan. Pasti ada
saat-saat terpuruk, bingung, cemas dan takut. Tapi lebih banyak saat-saat
menyenangkan, canda dan tawa. Terutama saat anak Anda bayi dan balita, betapa
berharganya waktu saat orangtua adalah manusia terpenting bagi seorang anak.
Jangan biarkan rasa capek, frustrasi dan kecewa kita merusak masa-masa bulan
madu dengan mahluk-mahluk manis yang baru beberapa lama muncul di dunia.
Anak-anak adalah mahluk-mahluk manis yang lucu
dengan pikiran dan kemauan sendiri, yang mencintai tanpa syarat. Dan sayang
sekali jika orangtua tidak menikmati saat-saat indah mendidik anak-anaknya jika
terpuruk dalam ketidakpercayaan dirinya.
Saya selalu percaya, bahwa orangtua yang bahagia
yang akan mendidik anak-anak yang berbahagia..